Tim Peda Tuan Rumah Tampil Memukau

MC.KOMINFO B/S. TIM Kabupaten Bengkulu Selatan (BS), di hari pertama lomba Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (Peda KTNA) XVI Provinsi Bengkulu, langsung mencuri perhatian. Turun setiap sesi pertama pada lomba bongkar pasang roda handtraktor dan lomba memipil jagung yang digelar di Gedung Olahraga (GOR) Padang Panjang, Kamis (19/7), tim tuan rumah ini berhasil memukau penonton setelah berhasil menyelesaikan lomba dengan waktu yang singkat.

Hanya saja, siapa yang meraih juara satu dua tiga dan harapan satu sampai tiga, masih dirahasiakan tim juri. Hasil lomba akan diumumkan secara resmi pada penutupan Peda KTNA XVI pada Selasa (24/7) pekan depan.

“Kalau cepat memang iya. Tapi untuk juara satu, masih rahasia panitia. Resminya nanti. Pas penutupan,” ujar salah seorang tim juri bongkar pasang hand traktor, Joni Hasrun.

Joni menambahkan, ada lima poin yang dinilai dalam bongkar pasang handtraktor. Waktu, kekompakan, pembagian peran peserta, tingkat kecermatan atau kecepatan memilih peralatan, dan kerapian pemasangan terakhir. Ada tiga handtraktor yang disiapkan. Turun disesi pertama, tim dari BS, Seluma, dan Kaur.

“Waktu 15 menit. Dengan maksimal enam orang per tim. Tugasnya, membongkar ban karet handtraktor, kemudian memasang ban besi, kemudian memasang ban karet lagi. Jadi seolah-olah handtraktor ini akan dari rumah mau ke sawah dan kemudian kembali lagi ke rumah,” jelas Joni.

Gelar Teknologi

Peragaan teknologi pertanian juga menjadi mata lomba yang digelar di GOR kemarin. Imron, sang juri menjelaskan, pada lomba ini, masing-masing daerah akan menampilkan teknologi yang mereka miliki dengan kriteria baru, mudah diterapkan dan dimengerti oleh, serta berguna secara luas.

“Peserta diminta satu persatu menampilkan dan menjelaskan cara kerjanya,” imbuh Imron, PNS Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Bengkulu.

Kabupaten Bengkulu Utara (BU) menampilkan pompa air tanpa listrik dan bahan bakar. Sang penemu, Muhtar Ashudi didampingi rekannya, Hendri Suratin menjelaskan, mesin ini mengadalkan gaya gravitasi. Semakin besar tekanan air dan pipa yang digunakan, akan semakin kencang tekanan air untuk mendorong air ke atas guna menyuplai air pada daerah dataran tinggi.

Alat ini solusi mencukupi air pada daerah dataran tinggi. Dan sudah kami coba tapi batu sebatas skala memenuhi kebutuhan pribadi,” tutur Muhtar.

Cukup menarik dari Kota Bengkulu yang memanfaatkan mesin cuci bekas, dengan syarat pengeringnya masih berfungsi. Peserta mencontohkan ubi parut. Setelah dimasukan dalam kain kasa, barulah dikeringkan melalui jasa mesin.

“Sudah kami coba. Dimana ubi yang sudah diris untuk bahan keripik. Kalau dibantu dikeringkan dengan mesin cuci, ubi yang sudah digoreng akan renyah dan mengurangi penggunakan minyak goreng,” ujar peserta dari Kota Bengkulu.

Tim Bengkulu Tengah (Benteng) menampilkan produksi kecap dari air kelapa produksi KWT Putri Tanjung Kecamatan Taba Penanjung. Goro Mugiono, tim dari Benteng, mengatakan, membuat kecap ini mudah. Bahannya, lima liter air kelapa tua segar, 150 gram gula merah, dua ruas jahe, tiga siung bawah putih, dua batang serai, dan lima lembar daun salam segar.

“Air kelapa disaring kemudian direbus di api sedang. Setelah air kelapanya separuh, masukan seluruh bahan yang sudah digeprek kemudian aduk. Sekitar 10 menit angkat. Nah kecap ini awet enam bulan dan sudah kami produksi. Sekarang kami tinggal menunggu hak patennya,” ujar Goro.

Terpisah digelar juga temu profesi di aula Dinkes BS. Ketua KTNA BS, Ruslan M Arjo, S.Sos mengatakan, temu ini tak lain untuk menyamakan persepi guna peningkatan pengetahuan penyuluh. . Temu ini menghadirkan nara sumber yakni Ketua Perhiptani Provinsi Bengkulu dan Ketua Ipkani BS. (ali.MC KOMINFO)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *